Selasa, 08 September 2009

makalah

Bab I

Landasan Pendidikan

Praktek pendidikan diupayakan pendidik dalam rangka memfasilitasi peserta didik agar mampu mewujudkan diri sesuai kodrat dan martabat kemanusiaanya. Tindakan pendidikan diarahkan kepada tujuan agar potensi perserta didik(siswa) berkembang secara maksimal sehingga dapat berkembang. Dalam pertanyaan tadi tersirat pendidikan berfungsi untuk memanusiakan manusia, bersifat normatifi dan karena itu mesti dapat di pertanggung jawabkan. Maksud dari memanusiakan manusia adalah merubah siswa atau peserta didik menjadi manusia yang berguna atau berkembang.

Sehubungan dengan hal di atas, peraktek pendidikan tidak boleh sembaragan, sebaliknya harus memilki suatu landasan. Artinya ,peraktek pendidikan harus memilki suatu landasan yang kokoh agar jelas dan benar konsepnya,tepat tujuan dan sasaranya, relavan isi kurikulumnya serta efisien dan efektif cara pelaksanaanya. Implikasi dari hal tersebut dalam rangka pendidikan mesti terdapat momen beroikir dan momen bertindak, mesti terdapat momen studi pendidikan dan momen praktek pendidikan. Para pendidik dan calon pendidik perlu melakukan studi mengenai landasan pendidikan, sebab landasan pendidikan akan menjadi titik tolak peraktek pendidikan dan dalam rangka memahami makna pendidikan, memahami hakikat peserta didik atau siswa, menetapkan tujuan pendidik, memilih isi pendidik , memilih cara pendidikan.

A. Pengertian Landasan Pendidikan

Istilah landasan mengandung arti sebagai alas,dasar, atau tumpuan. Landasan adalah suatu alas atau dasar pijakan dari sesuatu hal, suatu titik tumpu atau titik tolak dari suatu hal; atau suatu fundasi tempat berdirinya suatu hal. Menurut sifat dapat di bedakan menjadi dua jenis landasan,

1. Landasan yang bersifat material atau yang bersifat fisik.

2. Landasan yang bersifat konseptual.

B. Jenis-jenis landasan pendidikan

Asumsi-asumsi yang dijadikan titik tolak dalam rangka pendidikan berasal dari berbagai asumsi,berdasarkan sumbernya landasan pendidikan dapat diidentifikasi dan dikelompokan menjadi empat jenis,yaitu;

1. Landasan religius pendidikan

2. Landasan filosofis pendidikan

3. Landasan ilmiah pendidikan

4. Landasan hokum/yuridis pendidikan

Landasan religius pendidikan adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari ajaran agama yang di jadikan titik tolak dalam pendidikan.

Landasan filosofis pendidikan adalah asumsi-asumsi yang ber-sumber dari filsafat yang dijadikan titik tolak dalam pendidikan,

Landasan ilmiah pendidikan adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari disiplin ilmutertentu yang di jadikan titik tolak dalam pendidikan. Jenis landasanpendidkan yaitu; landasan psikologis pendidikan,sosiologis pendidikan,antropologis pendidikan,historis pendidikan,dsb.

1. Landasan psikologis pendidikan adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari psikologis yang dijadikan titik tolak dalam pendidikan.

2. Landasab pendidikan adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari sosiologis yang di jadikan titik tolak dalam pendidikan.

3. Landasan antriopologis pendidikan adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari antropologi yang dijadikan titik tolak dalam pendidikan.

4. Landasan historis pendidikan adlah asumsi-asumsi pendidikan yang bersumber dari konsep dan praktek pendidikan masa lampau(sejarah) yang dijadikan titik tolak perkembangan pendidikan masa kini dan masa dating.

Landasan hokum/yuridis pendidkan adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari peraturan perundangan yang berlaku, yang di jadikan titik tolak dalm pendidikan.

Berdasarkan sifat asumsi-asumsinya, landasan pendidikan dapat dibedakan menjadi dua jenis,yaitu

  1. Landasan deskriptif pendidikan

Asumsi-asumsi tentang kehidupan manusia sebagai sasaran pendidikan apa adanya yang dijadikan titik tolak dalam rangja pendidikan.landasan deskriptif atau landasan factual pendidikan meliputi ; landasan psikologis,sosiologis,antropologis pendidikan.

  1. Landasan preskriptif pendidikan

Asumsi-asumsi tentang kehidupan manusia yang ideal/diharapkan/dicita-citakan yang disarankan menjadi titik tolak studi pendidikan dan/ atau praktek pendidikan landasan preskriptif meliputi; landasan filosofis,religius,yuridis.

C. Fungsi-fungsi kegunaan landasan pendidikan.

Pendidikan diselanggarakan dengan suatu landsan pendidikan yang kokoh maka perakteknya akan mantap, artinya jelas dan benar konsepnya,tepat tujuanya, relavan isi kurikulumnya,efisien an efektif cara pendidikanya,contoh; dlam praktek pendidikan, para guru dituntut agar melaksnakan peranannya sesuai semboyan “tut wuri handayani” untuk memahami dan meyakini asumsi-asumsi dari semboyan tersebut. Jika tidak guru akan melakukan perbuatan yang bertentangan dengan semboyan “tut wuri handayani” misalnya : guru kurang menghargai bakat masing-masing siswa. Munkin saja guru memerankan penentu perkembangan pribadi siswa,guru berperan sebagai pembentuk untuk menjadi siapa para siswanya dikemudian hari.

Sebaliknya, jika guru memahami dan meyakini asumsi-asumsi dari semboyan “tut wuri handayani” yaitu kodrat alam dan kebebasan siswa, maka ai akan dengan sadar dan mantap melaksanakan pranannya. Dalam hal ini ai aalan relative tidak melakuka kesalahan. Misalnya: guru akan menghargai dan mempertimbangkan bakat setiap siswa dalam rangka belajar,sekalipun para siswa memiliki kesamaan,tetapi guru juga menghargai individualitas setipa siswa. Oendek kata, dengan bertitik tolak pada asumsi kodrat alam dan kebebasan yang dimiliki setiap siswa,maka perbutan guru dalam rangka praktek pendidikan bukanlah untuk membentuk prestasi belajar tanpa mempertimbangkan bakat atau kecepatan dari kapasitas belajar masing-masing siswa; membimbing para siswa dalam nelajar seingga mencapai prestasi optimal sesuai dengan bakat,minat,kecepatan dan kapasitas belajarnya masing-masing mengembangkan diri melalui interaksi dengan lingkungannya, dan berdasarkan system nilai tertentu demi akan mengatur atau mengarahkan siswa ketika siswa melakukan kesalahan atau satu arah dalam rangka belajarnya.

Sebagaimana hanya peraktek pendidikan,studi pendidikan juga memerlukan asumsi sebagai titik tolaknya. Berdasarkan uraian di atas, jelas kiranya bahwa landasan pendidikan befungsi sebagai titik tolak ayau acuan bagi para pendidikan (guru) Dalam rangka melaksanakan praktek dan/atau studi pendidikan. Di samping itu, landasan pendidikan memiliki kegunaan untuk menghindari terjadinya berbagai kesalahan, baik dalam rangka praktek pendidikan maupun dalam memahami dan membangung wawasan pendidikan.

Ada berbagai jenis landasan pendidikan yang perlu kita kaji. Di samping itu, karena adanya berbagai dalam filsafat, adanya berbagai teori dalam ilmu, bahkan adanya perbedaan kepercayaan ata agama yang dianut, maka dalam rangka mempelajari berbagai jenis landasan pendidikan tersebut akan ditemukan ber-bagai prinsip,hokum,teori, yang mungkin dapat kita sepakati dan sebaliknya yang mungkin tidak kita sepakat. Mengenai al yang terakhir ini hendaknya tidak di jadikan alasan kita tidak mau kita mempelajari sebab, semua itu justru akan memperluas dan memperjelas wawasan kependidikan kita. Hanya saja kita harus pandai memilih dan memiulih mana yang harus ditolak dan mana yang harus diterima. Peranan prilaku studi landasan pendidikan, yaitu membangung landasan pendidikannya sendiri. Landasan pendidikan yang dianut itulah yang akan berfungsi sebagai titik tolak dalam rangka praktek pendidikan dan/ studi pendidikan lebih lanjut.


Bab II

Manusia dan pendidikan

Pada bab 1 telah dikemukakan bahwa pendidik telah berfungsi untuk memanusiakan. Implikasi dari hal tersebut maka para pendidik dan calon pendidik perlu memahami hakikat manusia. Kiranya tidaklah mungkin seseorang pendidik dapat memanusiakan manusia jika pendidik yang bersangkutan memahamu manusia.

A. Hakikat manusia

Manusia adalah Mahluk Tuhan YME. Dalam perjalanan hidupnya manusia mepertanyakan tetang asal-usul alam semesta dan asal-usul keberadaan dirinya sendiri. Menurut Evoliusionisme, manusia adalah hasil puncak dari mata rantai evolusi yang terjadi alam semesta. Filsafat kreasionisme menyatakan bahwa asal-usul manusia –sebagaimana halnya alam semesta – adalah ciptaan suatu creative cause atau personality, yaitu Tuhan YME.

Penolakan pandangan yang menyatakan adanya manusia si alam semesta semata-mata sebagai hasil evolusi dari alam itu sendiri, tanpa pencipta. Adapun secara filosofis penolakan tersebut di dasarkan kepada empat argument berikut.

1. Argument ontologism : semua manusia memiliki ide tentang tuhan.

2. Argument kosmologis: segala sesuatu yang ada mesti mempunyai suatu sebab. Adanya alam semesta-termasuk manusia- adalah sebagai akibat.

3. Argument teleologis : segala sesuatu memiliki tujuan (contoh: mata untuk melihat)

4. Argument moral: manusia bermoral dapat mebedakan perbuatan yang baik dan yang jahat.

Manusia sebagai kasatuan badani dan rohani. Menurut Julien De La Mettrie dan Feuerbach penganut Materialisme bahwa esensi manusia semata-mata bersifat badani.segala hal yang bersifat kejiwaan/sepiritual dipandang hanya sebagau resonansi dari berfungsinya badan/organ tubuh.

Sebaliknya, menurut plato- salah seorang penganut Idealisme-bahwa esensi manusia bersifat kejiwaan/sepiritual/rohaniah.

Rene Descartes mengemukakan pandangan lain yang secara tegas bersifat dualistic. Menurut Descartes esensi manusia terdiri atas dua substansi yaitu badan dan jiwa. Descartes mengemukakan bahwa antara badan dan jiwa tidak ada hubungan saling mempengaruhi. Common sensenya Descartes sebaliknya mengakui adanya hubungan jiwa dan badan .menurutnya badan dan jiwa satu sama lain saling mempengaruhi.

Untuk menolak paham interaksionisme muncul paham paralelisme. Menurut paham ini tak ada hubungan saling mempengaruhi antara badan dan jiwa. Sekalipun dalam pengalaman sehari-hari kita melihat dan merasakan kenyataan adanya keserasian antara aspek badan dan kejiwaan. Di kemukakan oleh Leibniz bahwa keserasian tersebut telah di ciptakan sebelumnya oleh Tuhan.

Semua pandangan di atas dibantah oleh E.F Schumacher. Menurut Schumacher manusia adalah satu kesatuan dari yang bersifat badani dan rohani yang secara principal berbeda daripada benda,tumbuhan dan hewan maupun tuhan.

Manusia memiliki potensi untuk mampu berfifkir,berperasaan,berkehendak,berkarya. Dlam eksistensinya manusia berdimensi induvidualitas/personalitas,sosialitas,moralitas,keberbudayaan dan keberagaman. Implikasi dari semua itu, manusia memiliki historisitas, berinteraksi/berkomunikasi dan memiliki dinamika.

Individualitas/personalitas. Manusia bukan hanya sebagai suatu anggota di dalam lingkungannya, tetapi juga bersifat individual. Sebagai individu manusia adalah kesatuan yang tak dapat dibagi, ia memiliki perbedaan dari pada yang lain sehingga setiap manusia hakikatnya bersifat unik. Sebagai individu tiap manusia disimpulkan dalam pertumbuhan dan perkembangan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa manusia adalah individu /pribadi, adapun karakteristiknya bahwa manusia adalah satu kesatuan yang dapat dibagi.

Sosialitas.sekalipun setiap manusia adalah individu/personal tetapi ia tidak hidup sendiri. Ia juga hidup keterpautan sesamanya, misalkan: manusia harus berinteraksi dengan manusia lain untuk mendapatkan kebutuhan yang harus ia capai dengan cara bersosialisai. Manusia sebagai makhluk social atau makhluk bermasyarakat.

Ernst Cassirer menyatakan :” manusia takkan menemukan diri manusia takkna menyadari individualitasnya kecuali melalui perantara pergaulan social. Theo Hujibers mengemukakan bahwa “dunia hidupku dipengaruhi oleh orang lain sedemikian rupa,sehingga demikian mendapat atri sebenarnya dari aku bersama orang lain. Karena setiap manusia adalah individu/pribadi, dan karena terdapat hubungan timbale balik antara individu dengan sesamanya,

Keberbudayaan adalah “keseluruhan system gagasan tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyrakat yang dijadikan milik manusia dengan belajar”ada tiga jenis wujud kebudayaan.

  1. Sebagai kompleks dari ide-ide,ilmu pengetahuan, nilai-nilai,norma-norma,peraturan-peraturan.
  2. Sebagai kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dlam masyarakat
  3. Sebagai benda-benda hasil masayrakat.

Kebudayan bukan sesuatu yang berada di luar manusia, melainkan meliputi perbuatan manusia karena dan bersama kebudayaanya. Ernt Cassirer mengaskan” manusia tidak menjadi manusia karena sebuah factor di dalam dirinya, sperti misalnya naluri atau akal budi, melainkan fungsi kehidupan, yaitu pekerjaanya,kebudyaanya.

Uraian di atas menunjukan bahwa kebudayaan memiliki fungsi positif bagi kemunkinan eksistensi manusia,naming demikian perlu dipahami pula bahwa manusia kurang bijaksana dalam mengembangkan dan/atau menggunakanya.

Moralitas eksistensi manusia memiliki dimensi moralitas .manusia memiliki dimensi moralitas karena ia memiliki kata hati yang dapat membedakan antara baik dan jahat.

Keberagamaan merupakan salah satu karakteristik esensial eksistensi manusia yang terungkap dalam bentuk pengakuan atau keyakinan atau kebenaran suatu agam yang di wujudkan dalam sikap dan prilaku.

Historisitas eksistensi manusia memiliki dimensi historisitas , artinya bahwa keberadaan manusia pada saat itu terpaut kepada masa lalunya ia belum selesai mewujudkan sebagai mnausia,ia mengarag kemasa depan untuk mencapai tujuanya. Manusia memeng adalah manusia,tetapi ia juga harus membangun terus berjuang untuk hidup sesuai kodrat dan martabat kemanusiaanya.karena itu,ia “belum selesai,” belum selesia” mengaktualisasi diri demi mencapai cita-cita hidupnya. Tujuan hidup manusia mencakup 3 dimensi.

  1. Dimensi ruang
  2. Dimensi waktu
  3. Dimensi nilai

Komuniks/interaksi dalam rangka mencapai tujuan hidupnya manusia berinteraksi/ berkomunikasi.

Dinamika artinya manusia todak pernah berhenti,selalu dalam keaktifan, baik dalam aspek fifiologik maupun spiritualnya. Karena manusia adalah subjek, maka ia dapat mengontrol dinamikanya. Namun demikian karena ia adalah satu kesatuan jasmani-rohani (yang di bekali nafsu) sebagai insan social , idealnya manusia harus secara sengaja dan secara prisipal menguasai sdirinya agar dinamiknay betul-betul sesuai dengan arah yang seharusnya .

Eksistensi manusia adalah untuk menjadi manusia. Tegasnya ia harus menjadi manusia ideal manusia yang di harapkan,di cita-citakan,atau menjadi manusia yang seharusnya. Ideal yang d maksud adalah manusia yang mampu mewujudkan berbagai potensi secara optimal sehingga beriman dan bertaqwa kepada tuhan YME, berahlak mulia,sehat,cerdas,berperasaan,berkemauan dan mampu berkarya.

B. Prinsip-prinsip antropologis keharusan pendidikan : manusia sebagai mahkluk yang perlu didik dan perlu mendidik diri

Prinsip Historisitas sebagaimana telah dijelaskan dalam uraian terdahulu,eksistensi manusia terpaut dengan masa lalunya sekaligus mengarah ke masa depan mencapai tujuan hidupnya.

Prinsip idealitas bersamaan dengan hal di atas,dalam eksistensinya manusia mengemban tugas untuk menjadi manusia ideal.

Prinsip posibilitas/aktualitas bagaimana mungkin dapat menjadi manusia? Perkembangan manusia bersifat terbuka. Manusia,misalnya : potensi untuk beriman dan bertaqwa kepada tuhan YME, untuk dapat brbuat baik ,cipta rasa,karsa setelah kelahiranya berbagai potensi tersebut mungkin kurang terwujudkan atau mungkin pula tidak terwujud. Manusia mungkin berkembang sesuai kodrat dan martabat kemanusiannya , mungkin pula ia berkembang kea rah yang kurang atau tidak sesuai dengan kodrat dan martabat kemanusiaanya.

Dari urain di atas dapat dipahami bahwa berbagai kemampuan yang seharusnya dimiliki manusia tidak di bawa sejak kelahiranya, melainkan harus diperoleh setelah kelahirannya dalam perkembangan menuju kedewasaanya. Manusia belum selesai menjadi manusia, ia dibebani keharusan untuk menjadi manusia tetapi ia tidak dengan sendirinya menjadi manusia , unyuk menjadi manusia ia perlu dididik dan mendidik diri”manusia dapat menjadi manusia hanya melalui pendidikan”. Berdasarkan uraian di atas disimpulkan, bahwa manusia adalah mahkluk yang perlu dididik dan mendidik diri, terdapat tiga prinsip antropologis yaitu:

1. Prinsip historisitas

2. Prinsip idealitas

3. Prinsip posibilitas/aktualitas

C. Prinsip-prinsip kemungkinan pendidik manusia: sebagai mahkluk hidup yang dapat dididik

Manusia perlu didik dan mendidik diri. Ada lima perinsip antropologis yang melandasi manusia akan dapat didik.

1. Prinsip potensial: pendidik bertujuan agar seorang menjadi manusia idel.

2. Prinsip dinamika: di tinjau dari sudut pendidik, pendidik di upayakan memfasilitas atau menjembatani peserta didik agar menjadi manusia idel.

3. Prinsip individualitas: praktek pendidik merupakan upaya pendidik memfasilitasi manusia yang antara lain diarahkaan agar ia mampu menjadi dirinya sendiri.

4. Prinsip sosialitas: pendidik hakikatnya berlangsung dalam pergaulan interaksi antar sesame manusia.

5. Prinsip moralitas: pendidik bersifat normatife, artinya dilaksanakan berdasarkan system dan norma tertentu.


Bab III

Pengertian Pendidikan

Bab ini akan membahas tiga permaslahan pokok, yaitu pengrtian pendidik berdasarkan lingkupnya, pengrtian pendidika berdasarkan pendekatan ilmiah dan pendekatan system, sertapengertian pendidik berdasarkan pendekatan antropogi filosofis.

A. Pengertian pendidik berdasarkan lingkupnya

1. Pendidik dalam arti luas

Dalam arti luas,pendidikan adalah hidup. Maksudnya bahwa pendidikan adalah segala pengalaman (belajar) di berbagai lingkungan yang berlangsung sepanjang hayat dan berpengaruhi positif bagi perkembangan individu. Dalam arti luas pendidikan berlangsung bagi siapapun, kapanpun dan dimanapun. Pendidikan tidak terbatas pada penyekolahan saja, bahkan pendidikan berlangsung sepanjang hayat. Pendidikan berlangsung di berbagai tempat atau lingkungan, baik did lama keluarga, di sekolah maupun dalam masyarakat. Dalam arti luas, tujuan pendidikan terkandung dalam setiap pengalam belajar dan tidak ditentukan oleh pihak luar individu. Tujuan pendidikan adalah pertumbuhan, jumlah tujuan pendidikan tidak terbatas.

2. Pendidikan dalam arti sempit

Pendidikan dalam prakteknya identik dengan penyokolahan, yaitu pengajaran formal di bawah kondisi-kondisi yang terkontrol. Dalam arti sempit Pendidikan hanya berlangsung bagi mereka yang menjadi siswa sekolah atau mahasiswa pada suatu perguruan tinggi.. pendidikan dilakukan dalam bentuk pengajaran yang terperogram dan bersifat formal. Dalam pengertian sempit, tujuan pendidikan ditentukan oleh pihak luar individu; tujuan pendidikan terbatas pada pengembangan kemampuan-kemampuan tertentu; pendidikan adlah mempersiapkan peserta didik untuk dapat hidup di masyarakat.

B. Pengertian pendidikan berdasarkan pendekatan ilmiah dan pendekatan system.

Berdasarkan pendekatan sosiologis, pendidikan dipandang identik dengan social yaitu suatu proses membantu generasi muda agar menjadi anggota masyarakat yang di harapkan. Pendidika adalah pengaruh yang dilakukan oleh generasi orang dewasa kepada mereka yang belum siap untuk melakukan kehidupan social. Sasarannya adalah membangun dan mengemban sejumlah kondisi fisik,intelek, dan moral pada diri anak sesuai dengan tuntutan masyarakat politis secara keseluruhan dan oleh lingkuangan khusus tempat ia akan hidup dan berada.

Berdasarkan pendekatan antropologi, pendidikan dipandang identik dengan enkulturasi atau pembudayaan,yaitu suatu proses dengan jalan mana seorang menyesuaikan diri kepada suatu kultur masyarakat dan mengasi-milasikan nilai-nilainya.

Pendidikan di pandang sebagai human ivestment atau usaha penanaman modal pada diri manusia untuk memepertinggi produksi barang dan/ jasa, sedangkan berdasarkan tinjuan politik,pendidikan didefinisikan sebagai proses civilisasi,yaitu” suatu upaya menyiapkan warga Negara yang sesuai dengan aspirasi bangsa dan negaranya.

Berdasarkan pendekatan biologi, pendidikan bearti proses adaptasi. Hal ini sebagaimana didefinisikan oleh horne bahwa pendidikan merupakan proses “penyesuain diri yang terbaik dari seseorang manusia yang sadar terhadap lingkuangan. Pendidikan dalam artinya yang hakiki, ialah pemberian bimbingan dan bantuan rohani kepada oaring yang belum dewasa “. Medidik berarti melakukan tindakan dengan sengaja untuk mencapai tujuan pendidikan.

Pendidikan berlangsung dalam pergaulan antara orang dewasa denganorang yang belum dewasa di dalam suatu lingkungan. Unsure yang terlibat dalam peraktek pendidiakn,yaitu;

1. Tujuan pendidikan

2. Pendidik

3. Anak didik

4. Isi pendidik

5. Alat dan metode cara pendidikan

6. Lingkuan pendidikan

Pendidikan baru terjadi ketika anak telah mengenal kewibawaan. Adapun syarat anak mengenal kewibawaan adalah kemampuan anak dalam memahami bahasa. Sedangkan batas atas pendidikan atau saat terakhir pendidikan adalah ketika tujuan pendidikan telah teracapai yaitu kedewasan.

3. Pengertian pendidikan berdasarkan pendekatan system

Berdasarkan pendekatan system, pendidikan dapat didefinisikan sebagai suatu keseluruhan yang terdiri atas sejumlah komponen yang saling berhubungan secara fungsional dalam rangka mencapai tujuan pendidikan. Menurut P.H Commbs ada tiga jenis sumber input dari masyarakat bagi system pendidikan, yaitu:

1. Ilmu pengatahuan,nilai-nilai dan tujuan yang berlaku di dalam masayarakat;

2. Penduduk serta tenaga kerja yang berkualitas

3. Ekonomi atau penghasilan masyarakat.

Adapun kompenen system pendidikan tersebut meliputi.

1. Tujuan dan pioritas : komponen berfungsi untuk mengarahakan semua kegiatan system

2. Siswa atau peserta didik : komponen ini berfungsi untuk belajar atau menjalani proses pendidikan

3. Pengelolan atau management : mengkoordinasikan,mengarahkan dan menilai system pendidikan.

4. Struktur dan jadwal : mengatur waktu dan pengelompokan siswa menurut tujuan-tujuan tertentu.

5. Isi atau kurikulum : sebagai bahan atau apa yanh harus dipelajari siswa.

6. Guru atau pendidik : membantu menyediakan bahan dan menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar (KBM) untuk siswa.

7. Alat bantu belajar : Agar KBM menjadi lebih menarik, berfariasi dan mudah.

8. Fasilitas : menyediakan tempat untuk terjadinya kegiatan belajar mengajar (KBM).

9. Teknologi : untuk mempelancar KBM

10. Control kualitas :membina system peraturan dan criteria pendidikan.

11. Penelitian : untuk mengembangkan pengetahuan,penampilan system dan hasil kerja system.

12. Biaya : sebagai petunjuk tingkat efisiensi system pendidikan.

C. Pendidikan sebagai Humanisasi

Definisi pendidik telah kita pahami bahwa manusia adalahmahkluk yang perlu dididik,perlu mendidik diri, dan dapat perlu dididik. Eksistensi manusia tiada lain adalah untuk menjadi manusia. Adapaun manusia akan dapat menjadi manusia hanya melalui pendidkan. Implikasinya maka pendidikan tiada lain adalah humanisasi.

Konsep hakikat manusia sebagai satu kesatuan yang serba dimensi dan terintregrasi sebagaimana telah kita pahami melalui uraian pada bab II, mengimplikasikan bahwa sasaran pendidikan bukan aspek badaniahnya saja dari manusia, bukan pula aspek kejiwaanya saja. Sasaran pendidikan hakikatnya adalah manusia sebagai kesatuan yang terintregrasi.

Tujuan kdan fungsi pendidikan. Pendidikan diupayakan dengan berawal dari manusia apa adanya (aktulisasi) dengan memprtimbangkan brbagai kemungkinan yang ada padanya(potensial), dan diarahkan menuju terwujudnya manusia yang seharusnya/dicita-cita(idealitas).

Tujuan pendidikan itu tiada lain adalah manusia yang beriman dan bertaqwa kepada tuhan YME, berahlak mulia,sehat,cerdas berperasaan, berkemauan dan mampu berkarya ; mampu mengendalikan hawa nafsunya ; kepribadianya bermasyarakat dan berbudaya.

Sifat karakteristik pendidikan. Pendidikan diarahkan menuju terwujudnya manusia idel, sebab itu pendidikan bersifat normative. Pentingya pendidikan bukan hanya pada masa kanak-kanak,melainkan sejak dini hingga meniggal dunia.

Prinsip sosialitas mengimplikasikan bahwa pendidikan mempunyai kemungknan untuk dapat mempengaruhi peserta didik. Namun demikian humanisasi bukanlah pembentuk peserta didik atas dasar kehendak sepihak dari pendidik. Sifat pendidik yang normatif dan dimensi moralitas mengimplikasikan bahwa pendidikan hanyalah bagi manusia, tiada ada [endidik bagi khewan manusia pendidik untuk menjadi manusia yang baik.


Bab IV

Pendidikan sebagai ilmu dan seni

Ilmu pendidikan berfungsi sebagai landasan dan petunjuk tentang cara-car melaksanakn pendidikan.

A. Studi pendidikan

Studi pendidikan adalah upaya yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang dalam rangka memahami pendidikan atau menghasilkan system konsep pendidikan.

Metode cara kerja dalam studi pendidikan. Studi pendidikan dapat dilakukan orang melalui metode atau acara kerja tertentu, yaitu

1. metode kerja awam : upaya memahami pendidik dengan cara berfikir Commonsense dan pengamatan atau observasi sepintas yang kurang sistematis dan teliti.

2. metode ilmiah : upaya memahami pendidik dengan menggunakan prosedur penelitian yang tertentu dan pengamatan empiris yang teliti,sebagaimana dilakukan para ilmuwan.

3. metode filsafiah : upaya memahami pendidik melalui berfikir reflektif sistematis,kritis,radikal dan sinoptik untuk menghasilkan system gagasan tentang pendidikan yang komprehensif fan preskriptif.

B. Ilmu pendidikan

Ilmu. Istilah ilmu berasal dari kata alama (bahasa arab) yang berarti pengetahuan. Dalam bahasa latin dikenal pula kat scire sebagai asal kata (science). Istilah ilmu mengandung arti pengetahuan ilmiah yang dihasilkan melalui metode ilmiah.

Ilmu pendidikan. Beradasarkan definisi ilmu, kita dapa mendefinisikan ilmu pendidikan, sebagai system pengtahuan tentang fenomena pendidikan yang dihasilkan melalui penelitian dengan menggunakan metode ilmiah. Karakteristik ilmu pendidikan. Ilmu pendidikan antara lain memiliki krakteristik sebagai berikut:

  1. Objek studi : ilmu meliputi berbagai hal sebatas yang dapat dialami manusia.
  2. Metode : ilmu menggunakan metode ilmiah demikian pula ilmu pendidikan.ilmu pendidikna menggunakan metode kuelitatif dan/ atau metode atau objek.
  3. Isi : isi ilmu juga pendidikan dapat berupa konsep, actual,aksioma,postulat,prinsip,hokum teori dan model yang disusunsecara sistematis.
  4. Fungsi : menejelaskan,memprediksikan, dan mengomtrol
  5. Ilmu pendidikan : menggunaka ilmu-ilmu lain dalam mempelajari pendidikan.

Sistematika ilmu pendidikan. Mengacu kepada sistematika pedagogic dari M.J Langeveld, madjid Noor dan J.m Daniel (1987) mengklasifikasikan ilmu pendidikan menjadi sebagai berikut.

a. Ilmu pendidikan teoritis

b. Ilmu pendidian praktis

Sedangkan Redja Mudyahardjo (2001) mengklasifikasikan ilmu pendidikan menjadi sebagai berikut:

a. Ilmu pendidkan makro

b. Ilmu pendidikan mikro

2.ilmu mendidik khusus

a. ilmu persekolahan

b. ilmu pendidikan luar sekolah

c. ilmu pendidikan luar biasa/ Orthopedagogik

C. Praktek pendidikan

Praktek pendidikan adalah upaya yang dilakukan seseorang atau sekelompok dalam rangka memfasilitasi peserta didik agar peserta sisik mencapai tujuan pendidik yang diharapkan. Praktek pendidikan dapat terselenggara secara formal, maupun diselenggarakan secara formal dannonformal. Apabila kita mempelajari gejala pendidkan dalam skala mikro, bahwa praktek pendidik pada dasarnya berlangsung dalam kegiatan/interaksi social antara pendidik dan peserta didik, pendidik tentu saja memilih isi pendidika dan menggunakan alat dan cara-cara/metode pendidikan tertentu. Peraktek pendidikan yaitu:

1. Tujuan pendidikan

2. Pendidik

3. Peserta didik

4. Isi/kurikulum pendidikan

5. Alat dan cara-cara metode pendidikan

6. Lingkungan pendidikan

“objek”(sasaran) dalam praktek pendidikan yaitu peserta didik yang pada hakikatnya adalah manusia.

Hubungan sntara studi pendidikan dan praktek pendidiakn. Terdapat hubungan komplementer antara studi pendidikan dengan praktek pendidikan. Hal ini sebagaimana dikemukakan redja Mudyahardjo bahwa:

1. Studi pendidikan menjadi dasar sesuatu praktek pendidikan.

2. Studi pendidikan menjadi alat unuutuk mencek keberhasilan praktek pendidikan.

3. Praktek pendidikan menjadi sumber bagi pelaksanaan studi pendidikan.

4. Praktek pendidikan menjadi sarana pengujian kebenaran prinsip pendidikan hasil studi pendidikan.

D. Praktek pendidikan sebagai panduan ilmu dan seni

Pendidikan sebagi ilmu. Sebagaimana dikemukakan terdahulu, fenomena pendidik dapat dipelajari melalui metode ilmiah dan telah menghasilkan ilmu pendidikan. Adapun ilmu pendidkan tersebut dapat dijadikan dasar dan petunjuk dalam rangka praktek pendidikan. Pendidikan sebagai seni. Mengajar adalah sebuah seni, bukan sebuah ilmu menurut pandangan sangatlah berbahaya mempergunakan tujuan-tujan dan metode-metode ilmu untuk urusan manusia sebagai individu, meskipun suatu statistic sering dapat dipergunaakan untuk menerangkan tingkah laku manusia dalam kelompokyang besar dan suatu diagnosa ilmiah tentang struktur fisik manusia selalu sangat brmanfaat. Esensinya bahwa praktek pendidikan itu hendaknya merupakan panduan ilmu dan seni.


Bab V

Landasan filosofis pendidikan

Ada dua alasan mengapa para pendidik perlu memiliki landasan filosofis pendidikan. Pertama, karena pendidikan bersifat normatife maka dalam rangka pendidikan diperlukan asumsi atau sesuatu titik tolak yang bersifat normative pula. Landasan filosofis pendidikan yang bersifat preskriptif atau normatife ini akan memnerikan petunjuk tentang apa yang seharusnya didalam pendidikan tidak cukup dipahami hanya melalui penedkatan ilmiah yang bersifat parsial dan deskriptif saja, melainkan perlu dipandang pula secara holistic.

Di dalam khasnah teori prndidikan terdapat berbagai aliran filsafat pendidikan, anatara lain idealism,realism,pragmatism. Namun bangsa Indonesia memiliki filsafat pendidikan nasional tersendiri,yaitu pancasila.

A. Filasafat dan landasan filosofis pendidikan

  1. Filasafat

Definisi filsafat. Istilah filsafat (philosophy) berasal dari dua suku katra dalam bahasa yunani kuno, yaitu philein (cinta) dan shopia (kebijaksanaan). Dalam secara etimologis filsafat adalah cinta kepada kebijaksanaan.

Karakteristik filsafat. Dapat didentifikasi enam hal berkanaan dengan karakteristik filsafat yaitu objek yang dipelajari filsafat(objek studi), proses berfilsafat (proses studi), tujuan berfilsafat, hasil berfilsafat (hasil studi), penyajian dan bersifat kebenarannya. Objek studi filsafat adalah segala sesuatu, meliputi segala yang telah tergelar dengan sendirinya (ciptaan tuhan) maupun segala sesuatu sebagai hasil kreasi manusia. Proses studi atau proses berfilsafat dumulai dengan ketakjuban, ketidak puasan, hasrat bertanya, dan keraguan seseorang filsuf terhadap sesuatu yang dialami. Berfikir filosofis atau berfilsafat kontemplatif, artinya berfikir untuk mengungkapkan apa yang ada di balik yang Nampak, atau disebut pula berfikir radikal. Adapun hasil filsafat adalah berwujud system teori, system pikiran atau system konsep yang bersifat normativ atau preskriptif dan individualistic-unik. Hasil berfilsafat bersifat normatif atau preskriptif artinya bahwa system gagasan filsafat menunjukan tentang apa yang dicita-citakan atau apa yang seharusnya. Sedangkan individulistik unik artinya bahwa system gagsan filsafat yang dikemukakan filsuf tertentu akan berbeda dengan system gagasan filsafat yang dikemukakan filuf lainya.

Sistematika/cabang-cabang filsafat. Berdasarkan objek yang dipelajari filsafat dapat diklasifikasikan ke dalam :

1. Filsafat khusus: cabang filsafat khusu terdiri atas:

a. Metafisika

b. Epistemology

c. Logika

d. Aksiologi

2. Filsafat khusus antara lain:

a. Filsafat hokum

b. Filsafat ilmu

c. Filsafat pendidikan

1. Landasan filosofis pendidkan

Definisi landasan filosofis pendidikan. Landasan filosofis pendidikan adalah seperangkat asumsi yang bersumber dari filsafat yang dijadikan titik tolak dalam pendidikan. Landasan filosofis pendidikan merupakan suatu system gagasan tentang pendidikan yang dideduksi atau dijabarkan dari suatu system gagasan filsafat umum yang dianjurkan oleh suatu aliran filsafat tertentu. Landsan filosofis pendidikan berisi tentang gagasan-gagasan atau konsep-konsep yang bersifat normative dan preskriptif . landasan filosofis pendidikan dikatakan bersifat normative atau preskriptif. Sebab landasan pendidikan tidak berisi konsep=konsep pendidikan apa adanya(factual).

Aliran dalam landasan filosofis pendidikan sebagaimana halnya di dalam filsafat umum, di dalam landasan filsafat pendidikan juga terdapat berbagai aliran, yaitu: landasan filosofis pendidikan idealisme, filosofis pendidikan realism,filosofis pendidikan pragmatism.

B. Landasan filosofis pendidikan idealism,realism dan pragmatism

1. Idealism

a. Konsep filsafat umum idealism

Metafisika hakikat realitas : para filsuf idealism mengklaim nahwa hakikat realitas bersifat spiritual. Bagi penganut idealism realitas diturunkan dari suatu substansi fundamental, yaitu pikiran/spirit/roh.hakikat manusia sejalan dengan gagasan di atas menurut para filsuf idealism bahwa manusia hakikatnya bersifat spiritual/kejiwaan.berdasarkan urain di atas dapat disimpulkan bahwa hakikat manusia bukanlah badanya, melainkan jiwa/sepiritnya, manusia adalah mahkluk berfikir, mampu memilih/bebas, hidup dengan suatu aturan moral yang jelas.

Epistemology: hakikat pengetahuan . proses mengetahui terjadi dalam pikiran,manusia memperoleh pengtahuan melalui berpikir.

Aksiologi: hakikat nilai. Para filsuf idealism sepakat bahwa nilai-nilai bersifat abadi. Menurut pnganut idealime theistic nilai-nilai abadi berada pada tuhan.

b. Implikasi terhadap pendidikan

Tujuan pendidikan adalah untuk membantu perkembangan pikiran dan diri pribadi siswa. Pendidikan bertujuan untuk membantu pengembangan karakter serta mengembangkan bakat manusia dan kebijakan sosial.

Kurikulum pendidikan. Demi mencapai tujuan pendidikan di atas kurikulum pendidikan idelaisme berisikan pendidikan liberal dan pendidikan vokasional/praktis. Pendidikan liberal dimaksudkan untuk pengembangan kemampuan-kemampuan rasional dan moral, adapun pendidkan vokasinal untuk pengembangan kemampuan suatu kehidupan/pekerjaan.

Metode pendidikan. Struktur dan atmosfir kelas hendaknya memberikan kesempatan kepada siswa untuk berfikir, dan untuk menggunakan criteria penilain moral dalam situasi-situasi kongkrit dalam konteks pelajaran.

Metode mengajar hendaknya mendorong siswa memperluas pengtahuan, mendorong berpikir reflektif, mendorong pilihan-pilihan moral pribadi, memberikan kterampilan-keterampilan berpikir logis; memberikan kesempatan menggunakan pengetahuna untuk maslah-maslah moral dan sosial. Guru hasur juga melatih kreatif dalam mengbangkan kesempatan baki pikiran siswa untuk menemukan,menganalisis,memadukan mensintesa dan menciptakan aplikasi-aplikasi penegtahuan untuk hidup dan berbuat.

2. Realime

a. Konsep filasafat umum

Metafisika : hakikat realitas. Jika idealism menekankan pikiran. Sebaliknya menurut para filsuf realism bahwa dunia terbuat dari sesuatu yang nyata, substansial dan material yang hadir dengan sendirinya. Realitas hakikatnya bersifat objektif, artinya bahwa realitas berdiri sendiri, tidak tergatung atau tidak bersandar kepada pikiran/jiwa/roh.

Hakikat manusia adalah bagian dari alam, dan ia muncul di alam sebagai hasil puncak dari mata rantai evolusi yang terjadi di alam. Pikiran adalah suatu organism yang sangat rumit yang mampu berfikir namun, sekalipun manusia mampu berfikir ia bisa bebas atau tidak bebas.

Episemologi: hakikat pengetahuan. Ketika lahir, jiwa ataupun pikiran manusia adalah kosong. Saat dilahirkan manusia tidak membawa pengetahuan atau ide-ide bawaan. Para filsuf realism menganut “perinsip independensi” yang menyatakan bahwa pengtahuan manusia tentang realitas tidak dapat mengubah substansi dan esensi realitas. Karena realitas bersifat material dan nyata, maka kebenaran pengtahuan diuji dalam kesesuainya dengan fakta di dalam dunia material atau pengalaman dria.

Aksiologi: hakikat manusia adalah bagain dari alam, maka ai pun harus tunduk kepada hokum-hukum alam,demikian pula masyarakat. “ tingkah laku manusia diatur oleh hukum alam, dan pada tingkat yang lebih rendah diuji melalui konvensi atau kebiasaan, dan adat istiadat di dalam masyarakat”.

b. Implikasi terhadap pendidikan.

Tujuan pendidikan adalah agar para siswa dapat bertahan hidup di dunia yang bersilfat alamiah, memperoleh keamanan dan hidup bahagia.metode pendidikan . “semua belajar tergantung pada pengalam baik pengalama langsung maupun tidak langsung. Evaluasi merupakan suatu aspek yang penting dalam mengajar. Guru harus menggunakan metode-metode objektif dengan mengevaluasi dan memberikan jenis-jenis tes tang memunkinkan untuk dapat mengukur secara tepat pemahaman para siswa tentang materi-materi yang di anggap esensial.

Perana guru dan siswa. Guru adalah pengelola kegiatan belajar mengajar di dalam kelas; guru adalah penentu materi pelajaran; guru harus menggunakan minat siswa yang berhubungan dengan mata pelajaran, dan membuat mata pelajaran sebagai sesuatu yang kongkrit untuk di alami siswa. Adapun siswa berperan untuk “menguasai penegtahuan yang diandalkan; siswa harus taat pada aturan dan berdisiplin, sebab aturan yang baik sangat diperlukan untuk belajar, disiplin mental dan moral dibutuhkan untuk berbagai tingkatan keutamaan.realisme memiliki kesamma dengan orentasi pendidikan idealism, yang yaitu essensialisme. Pendidikan dan realism sama-sama menekankan pentingya memberikan pengtahuan dan nilai-nilai esensial bagi para siswa.

3. Pragtamatisme

a. Konsep filsafat umum

Metafisika :hakikat ralitas . pragmatism dikenal pula dengan sebutan Eksperimentalisme dan Instrumentalisme. Menurut penganut aliran ini hakikat realitas adalah segala sesuatu yang dialami manusia bersifat plural. Dan terus menerus berubah. Bahwa realitas adalah sebagaimana dialami memalui pengalaman setia individu. Hakikat manusia.kepribadian/manusia tidak terpisah dari realitas pada umumnya, sebab manusia adalah bagian dari padanya dan terus menerus bersamannya.

Epistemology. Hakikat pengetahuan. Filsuf pragmatism menolak dualism antara subjek dan yang mempersepsi dengan objekyang dipersepsi. Manusia adalah kedua-duanya dalam dunia yang depersepsinya dan dari dunia yang ia persepsi. Menurut filsuf pragmatisme, suatu pengetahuan hendaknya dapat diverifikasi dan diaplikasi dalam kehidupan. Pengetahuan benar apabila dapt dipraktekan, memberikan hasil memuaskan.

Aksiologi.hakikat pengetahua. Nilai-nilai diturunkan dari kondisi manusia suatu proses,yaitu dalam tindakan atau perbuatan manusia itu sendiri.

b. Implikasi terhadap pendidikan

Tujuan pendidikan haruns mengajarkan sesorang bagaimana berpikir dan meneysuaikan diri terhadap perubahan yang terjadi di dalam masyarakat. Tujuan-tujuan tersebut meliputi:

1. Kesehatan yang baik

2. Kterampilan-keterampilan kejujuran (pekerjaan)

3. Minat-minat dan hob-hobi untuk kehidupan yang menyenangkan

4. Persiapan menjadi orang tua

5. Kemampuan untuk nertransaksi efektif dengan masalah-masalah sosial

Kurikulum pendidikan. Menurut para filsuf pragmatism tradisi demokratis adalah tradisi memperbaiki diri sendiri. Dalam pandangan pragmatism, kurikulum sekolah seharusnya tidak terpisahkan dari keadaan-keadaan masyarakat. Dalam pendidikan, materi pelajaran adalah dari keadaan-keadaan masyarakat. Dalam pendidikan, materi pelajaran adalah alat untuk memecahkan maslah-masalah individual dan siswa secara perorangan ditingkatkan atau direkontruksikan dan secara bersamaan masyarakat dikembangkan. Masalah-masalah lemabag demokratis juga harus dimuat dalam kurikulum karena itu kurikulum harus menjadi:

· Bebasis pada masyarakat

· Lahan praktek cita-cita demokratsi

· Perencanaan demokratis pada tiap setiap tingkat pendidian.

· Kelompok batasan-batasan tujuan umum masyarakat

· Bermakna kreatif untuk mpengembangan keterampilan-keterampilan baru.

· Kurikulum berpusat pada siswa dan aktifitas

Metode pendidikan. Sebagai mana dikemukakan Callahan dan Clark, penganut eksperimentalisme atau pragmatism mengutamakan penggunan metode pemecahan maslah serta metode penyelidikan dan penemuan.

Peranan guru dan siswa dalam pragmatism, belajar selalu dipertimbangkan untuk menjadi seorang individu. Dalam pembelajaran peranan guru bukan”menuangkan” pengetahuanya kepada siswa, sebab ini upaya tak berubah. Guru harus berperan;

· Menyediakan berbagai pengalaman yang akan muncul motivasi.

· Membimbing siswa utuk merumuskan batasan masalah secara spesifik.

· Membimbing merencanakan tujuan-tujuan individual dan kelompok dalam kelas untuk digunakan dalam memecahkan masalah.

· Membantu para siswa dalam mengumpulkan informasi berkenaan dengan masalah.

· Bersama-sama kelas mengevaluasi apa yang telah di pelajari.

Orientasi pendidika pragmatismeadalah progresifvisme. Artinya, pendidikan pragmatism menolak segala bentuk yang berlebihan dan membosankan dari pendidikan sekolah yang tradisoinal.

C. Landasan filsafat pendidikan nasional:pancasila

Pancasila adalah dasar Negara republik Indonesia. Bangs aindonesia memiliki lanadasan filosofis tersendiri dalam system pendidikan nasionalnya,yiatu pancasila.

a. Konsep filsafat umum

Metafisika :hakikat pengetahuan. Bangsa Indonesia menyakinkan bahwa manusia realitas atau semesta tidaklah ada dengan sendirinya , melainkan sebagai ciptaan (mahkluk ) tuhan yang maha esa.

Hakikat manusia adalah mahluk tuhan YME. Manusia adalah kesatuan badani dan rohani yang hidup dalam ruang dan waktu memiliki kesadaran dan penyendirian diri, mempunyai berbagai kebutuhan, dibekali naluri dan nafsu serta memiliki tujan hidup. Pancasila mengajarkan bahwa eksistensi manusia bersifat monopluralis tetapi bersifat integral, artinya bahwa manusia yang serba dimensi itu hakikatnya adalah satu kesatuan utuh.

Epitemologi: hakikat pengetahuan. Segala pegetahuan hakikatnya bersumber dari sumber pertam yaitu tuhan yang maha esa.

Aksiologi: hakikat nilai. Bersumber pertama segala nilai hakikatnya adalah tuhan yang maha esa, karena manusia adalah mahkluk hidup tuhan, pribadi/individual dan sekaligus insane sosial.

b. Implikasi terhadap pendidikan

Pendidikan adalah uasaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensinya diri untuk memiliki kekuatan spiritual keagaman pengendalian diri,kepribadian,kecerdasan,akhlak muliaserta kterampilan yang diperlukan dirinya.

Tujuan pendidikan. Pandangna pancasila tetntang hakikat realitas manusia dan hakikat nilai mengimplikasi bahwa pendidikan bertujuan untuk berkembangkan potensi peserta didika agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada tuhan yang maha esa.

Metode pendidikan. Berbagau metode pendidikan yang ada merupakan alternatif untuk diaplikasikan. Sebab, tidak ada satu metode menajar pun yang terbaik dibandingkan metode lainya dalam segala konteks praktek pendidikan.

Peranan pendidik dan peserta didik. Ada berbagai peranan pendidik dan peserta didik yang harus dilaksanakanya, namun pada dasarnya berbagai peranan tersebut tersurat dan tersirat dalam semboyan. “Ing ngarso sung tulodo ing madya mangun karso tut wuri handayani”.

Orientasi pendidikan memiliki dua funsi yaitu:

1. Fungsi konservasi dan

2. Fungsi kreasi

Kenyatan yang tidak bisa kita tolak,sehingga para peserta didik harus didik untuk menguasainya danbukan sebaliknya, mereka dikuasai oleh perubahan.


Bab VI

Landasan psikologis pendidikan

A. Perkembangan (development) individu dan factor-faktor yang mempengaruhinya

Keberhasilan pendidikan dalam melaksanakan berbagai perananya antara lain akan dipengaruhi oleh pemahamnnya tentang perkembangan peserta didik. Pertanyan ini mengacu pada asumsi bahwa:

1) Perana pendidikan adalah membantu peserta didik untuk dapat menyelesaikan tugas-tugas perkembangan sesuai dengan tahap perkembanganya.

2) Tahap perkembangan peserta didik pengimplikasi kemampuan dan kesiapan belajar.

3) Keberhasilan peserta didik menyelesaikan tugas-tugas perkembangan tahapanya akan mempengaruhi kenerhasilan penyelesain tugas-tugas perkembangan pada tahap perkembanganya selajutnya.

4) Pendidikan yang dilaksanak menyimpang dari tahapan dan tugas-tugas perkembangan peserta didik memungkinkan akibat negative bagi perkembangan peserta didik.

a. Definisi dan prisip-prinsip perkembangan

Perkembangan adalah proses perubahan-perubahan pada diri individu sebagai hasil dari petumbuhan fisik atau perubahan-perubahan biologis, dari pada sebagai perubahan melalui pengalaman. Sedangkan belajar adalah perubahan tingkah laku pada diri individu yang bersifat relatif permanen dan terjadi sebagai hasil pengalaman.

b. Pengaruh hereditas dan lingkungan terhadap perkembangan individu

Hasil studi psikologi sebagai jawaban terhadap penentuan permasalahn tersebut, dapat dibedakan menjadi tiga kelompok teori, yaitu nativisme,empirisme dan konvergensi.

1. Nativisme

Nativisme antara lain Scoupenhauer dan Arnold gessel. Penganut teori ini berasumsi bahwa setiap individu dilahirkan kedunia dengan membawa factor-faktor turunan.

Implikasi teori nativisme terhadap pendidikan yaitu kurang memberikan kemunkinan bagi pendidikan dalam upaya mengubah kpribadian peserta didik.

2. Empirisme

Teori empirisme antara lain Jhon Lock dan J.B Watson . mereka menolak asumsi nativisme, mereka berasumsi bahwa setiap anak dilahirkan kedunia dalam ke adaan bersih ibarat papan tulis yangbelum ditulis.

Implikasi teori empirisme terhadap pendidikan yakni memberikan kemungkinan sepenuhnya bagi pendidik untuk dapat membentuk kepribadian peserta didik.

3. Konvergensi

Wiliam Stern dan Robert J. Havighurst, mereka berasumsi bahwa perkembangan individu ditentukan oleh factor turunan maupun oleh factor lingkungan/pengalaman.

Implikasi teori konvergensi terhadap pendidkan yakni memberikan kemungkinan bagi pendidik untuk dapat membantu perkembangan individu sesuai dengan diharapkan namun demikian pelaksaanya harus tetap memperhatikan factor-faktor hereditas peserta didik.

B. Tahap dan tugas perkembangan

Asumsi bahwa adlah orang dewasa dalam skala kecil (anak adlah orang dewasa mini) telah dotinggalkan orang sejak lama, sebagaimana kita maklumi bahwa masa kanak-kanak adalah suatu tahap yang berbeda dengan orang dewasa.

3. Implikasi perkembangan individu terhadap perlakuan pendidikan(orang dewasa) yang diharapkan

Sebagaimana dikemukakan Yelon dan Weintein (1997),implikasi perkembangan individu terhadap perlakukan pendidikan yang diharapkan.

C. Teori belajar dan implikasi terhadap pendidikan

Peranan pendidikan (guru) antara lain adalah sebagai fasilitator dan motivator bagi peserta didik dalam pembelajaan. Demi pelaksanaan perananya itu pendidikan perlu memahami bagaimana anak belajar, adapun hal ini berkenaan dengan teori belajar. Secara umum teori belajar dapat dikelompokan menjadi tiga aliran utama yaitu: behaviorisme,kognitif,humanism

1) Behaviorisme

Teori belajar bihaviorisme didasarkan pada asumsi.

1. Hasil belajar adalah berupa perubahan tingkah laku yang dapat diobservasi

2. Tingkah laku dan perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar dimodifikasi oleh kondisi-kondisi lingkungan

3. Komponen teori behavioral ini adalah stimulus,respon dan konsekuen

4. Faktoe penentu yang pentoing sebagi kondisi lingkungan dalam belajar adalah Reiforcement.

2) Kognitif

Teori belajar didasarkan pada asumsi

1. Individu mempunyai kemampuan memproses informasi.

2. Kemampuan memproses informasi tergantung kepada kognitif yang perkembangannya berlangsung secara bertahap sejalan dengan tahapan usianya.

3. Belajar adalah adala proses internal yang kompleks berupa proses informasi .

4. Hasil belajar adalah berupa perubahan struktur kognitif.

3) Humanism

Teorinya didasarkan pada asumsi

1. Individu adalah pribadi utuh,ia mempunyai kebebasan memilih untuk menentukan kehidupanya.

2. Individu mempunyai hasrat untuk mempengaruhi.

3. Belajar adalah fungsi seluruh kpribadian individu.

4. Belajar akan bermaknajika melibatkan seluruh kepribadian individu.

Perlu kita jadikan titik tolak/acuan dalam memilih,menerima dan mengaplikasikan antara lain pandangna kita tentang hakikat peserta didik, tujuan pendidik yang hendak dicapai, karakteristik peserta didik,serta dan kondisi atau konteks yang dihadapi.


Bab VII

Landasan sosiologis dan antropologis

A. Individu,masyarakat, dan kebudayaan

Individu adalah manusia perseorangan sebagai kesatuan yang tak dapat dibagi ,memiliki perbedaan dengan yang lainnya pilihan dantanggung jawabnya sendiri.

Masyarakat yaitu setiap kelompok manusia yang telah hidup dan bekerja bersama cukup lama sehingga mereka dapat mengatur diri mereka dan menganggap diri meraka sebagai satu kesatuan sisoal dengan batas-batas yang dirumuskan dengan jelas.

Kebudayaan keseluruhan system gagasan,tingdakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar”.

Masyarakat dan kebudayaan mempengaruhi individu,sebaliknya masyarakat dan kebudayaan dipengaruhi pula oleh individu-individu yang membangunnya. Struktur sosial,status dan peranan. Di dalam masyarakat terdapat struktur sosial .

Interaksi sosial tersebut mereka melakukan berbagai tindakan sosial,yaitu perilaku individu yang dilakukan dengan mempertimbangkan dan berorientasi kepada prilaku oran lain untuk mencapai tujuan.

B. Pendidkan : sosialisasi dan enkulturasi

Sosialisasi dan elkulturasi ditinjau dari sudut masyarakat, merupakan fungsi masyarakat dalam rangka mengantarka setiap individu khususnya genarasi muda ke dalam kehidupan bermasarakat dab berbudaya.

Sedangkan definisi enkulturasi menekankan kepada perolehan kompetensi budaya. Namun kehidupan yang riil. Dalam proses sosial elkulturasi sebenarnya terjadi juga proses enkulturasi, yang mana “ di dalam enkulturasi ini seorang individu mempelajari dan menyesuaikan alam pikiran serta sikapnya dengan adat istiadat,system,norma, dan peraturan-peraturan yang hidup dalam kebudayanya. Pendidikan diupayakan anatara lain agar peserta didik mampu hidup,bermasayarakat dan berbudaya.

C. Pendidkan sebagai pranata sosial

Pranata sosial adalah suatu system yang peran dan norma sosial yang saling berhubungan dan terirgrasi disekitar pemenuhan kebutuhan atau fungsi sosial yang penting.pendek kata pranat sosial adalah perilaku terpola yang digunakan oleh suatu masyarakat untuk memenuhi berbagai kebutuhan dasarnya.

Jenis pranata sosial masyarakat dam masyarakat sebagai suatu kesatuan individu-individu mempunyai kebutuhan dasar.

Pranata pendidikan merupakan salah satu pranata sosial dalam rangka sosialisasi dan/ atau enkulturasi untuk mengantarkan individu ke dalam kehidupan bermasyarakat dab berbudaya.

D. Pendidikan informal,formal dan non formal

Proses sosialisi atau pendidikan dijalani individu sepanjang hayat. Dalam rangaka pendidikan sepanjang hayat terdapat berbagai pendidikan atau agen-agen sosialisi. Proses pendidikan yang berlangsung di berbagai lingkungan/lembaga tersebut ada ayng bersifat informal,formal dan nonformal.

1. Pendidikan informal

Pendidikan formal yaitu pendidikan yang berlangsung.terselenggara secar wajar atau secara alamiah di dalam lingkungan hidup sehari-hari.

a. Pendidkan informal dalam keluarga

Keluarga merupakan unit sosial terkecil yang brsifat universal, artinya terdapat di setiap tempat di mana pun. Berdasarkan keanggotaannya, keluarga dibedakan menjadi keluarga batih dan keluarga luas. Keluarga batih adalah keluarga terkecil yang terdiri atas ayah,ibu dan anx. Sedangkan keluarga luas adalah keluarga yang terdiri atas beberapa keluarga batih.

Salah satu fungsi keluaraga adalah melaksanakan pendidikan. Keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang bersifat informal, artinya bahwa keluarga di bangun bukan pertama-tama sebagai pranata pendidikan. Tujuan pendidikan dalam keluarga adalah agar anak menjadi pribadi yang mantap,bermoral dan menjadi anggota masyarakat yang baik.

b. pendidikan informal dalam masyarakat

pendidikan informal dalam masyarakat antara lain dapat berlangsung melalui adat kebiasaan,pergaulan anak sebaya,upacara adat,pergaulan di lingkungan kerja,permainan,pegelaran kesenian, dah bahkan percakapan biasa sehari-hari.

2. Pendidikan formal

Sekolah sebagai pranat sosial. Pendidikan formal adalah tujuan pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar,pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Komponen sekolah memiliki struktur,unsur atau komponen antara lain:

1. Tujuan pendidikan

2. Manusia

3. Kurikulum

4. Media pendidikan dan teknologi

5. Sarana,prasarana dan fasilitas

6. Pengelola sekolah

Sekolah sebagai pranata/lembaga pendidikan formal. Sebagai lembaga pendidikan formal,sekolah merupakan kesatuan kegiatan-kegiatan menyelengarakan pembelajaran yang dilakukan oleh para petugas khusu dengan cara-cara yang terancana dan teratur menurut dan tatanan nilai dan norma yang telah ditentukan untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Sekolah mempunya fungsi atau tugas khusus dalam bidang pendidikan. Fungsi/tugas sekolah dalam melaksanakan kegiatan untuk mencapai kurikuler.

3. Pendidikan nonformal

Definisi. Pendidikan normal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksankan terstruktur dan berjenjang.

Fungsi pendidikan nonformal berfungsi mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pada penguasa pengetahuan dan keterampilan serta pengembangan sikap dan kpribadian.

Lingkup pendidikan nonformal meliputi pendidikan kecakapan hidup ,pendidikan anax usia dini, pendidiakan kepemudaan,pendidikan pemberdayaan perempuan dan pendidikan keaksaran.

Satuan pendidikan satuan pendidikan nonformal terdiri atas lembaga khusus pelatihan,kelompok belajar,pusat kegiatan belajar masyarakat, dan majelis taklim, serta satuan pendidikan yang sejenis.

E. Pendidikan Masyarakat dan kebudayaan

Terdapt hubungan timbale balik antara pendidikan dengan masyarakat dan kebudayaan. Sebagai pranat sosial, pranata pendidik berada di dalam masyarakat dan kebudayaannya. Pranata menganmbil masukan dari masyrakat dan kebudayaan, serta memberikan out put kepada masyarakat.

F. Pola sikap guru kepada siswa

Daid Hargreaves mengemukakan tiga kemunkinan pola sikap guru terhadap muridnya serta implikasinya terhadap fungsi dan tipe/katagori guru.

Pola pertama: guru beasumsi bahwa belum menguasai kebuyaan,sedangkan pendidikan di artikan sebagai enkulturasi.

Pola kedua: guru berasumsi bahwa para muridnya mempunyai dorongan untuk belajar yang harus menghadapi materi pengajaran yang baru baginya,cukup berat dan kurang menarik.

Pola ketiga: guru beasumsi bahwa para muridnya mempunyai dorongan belajar, di tambah dengan harapan bahwa muridnya darus mampu menggali sendiri sumber belajar, dan harus mampu mengimbangi dan berperan dalam kehidupan masyarakat yang terus menerus berubah, bahkan dengan kecepatan yang semakin meningkat.


Bab VIII

Landasan historis pendidikan

A. Pendidikan pada zaman purba hingga zaman pemerintahan kolonial belanda

1. Zaman purba

Latar be;akang sosial budaya. Karaakteristik kebudayaan masyarakat pada zaman tergolong kebudayaan maritim.kepercayaan yang diantut masyarakat antara laian animisme dan dinamisme.

Pendidikan. Tujuan pendidikan pada zaman ini adalah agar generasi muda dapat mencari nafkah, membela diri hidup bermayarakat, taat terhadap adat dan nilai-nilai religi.

2. Zaman kerajaan hindu budha

Latar belakang sosial budaya. Nenek moyang kita pada zaman ini umumnya tinggal didaerah subur dekat pesisiran pantai.

Pendidikan. Pendidikan pada zaman ini, sealain diselenggarakan dalam keluarga dan di dalam kehidupan kesaeharian masyaarakt, dan di selenggarakan di dalam lembaga pendidikan yang diasebut perguruan atau pesantren. Penglolaan pendidikan bersifat otonom,zaman pendidikan pada manusia adalah agar para peserta didik menjadi penganut agama yang taat,mampu hidup bermasyarakat sesuai tatanan masyarakat yang berlaku pada saat ini,mampu membela diri dan membela Negara.

3. Zaman kerajaan islam

Latar belakang sosial buaya. Nusantara memiliki letak yang setrategi dalam rangka pelayaran dan perdagangan. Pada abad ke 14, kota bandara malaka ramai dikunjungi para saudagar dari asia barat dan jawa (majapahit). Melalui para saudagar dari jawa yang masuk memeluk agama islam, maka tersebarlah agama islam ke pulau jawa da akhrinya berdirilah kerajaan-kerajaan islam.

Pendidikan. Tujuan pendidikan pada jaman kerajaan islam diarahkan bertaqwa kepada allah SWT. Sehingga mencapai keselamatan di dunia akhir melaui “iman,ilmu dan amal”.

4. Zanan pengruh prtugis dan spanyol

Latar belakang sosial budaya.awal abad ke 16, kenegri kita datanglah bangsa portugis, kemudian disusul oleh bangsa spanyol. Selalin untuk berdagang kedatangan mereka juga disertai olleh misioner yang bertugas menyebarka agama katolik.

Pendidikan. Penagruh bangsa portugis dalam bidang pendidikan utamanya berkenaan dalam penyebaran agama katolik.

5. Zaman pemerintahan kolonial belanda

Latar belakang sosial budaya. Pada tahhun 1596 bangsa belanda telah datang ke negeri kita. Tujuan kedatangan mereka adalah untuk berdagang. Selain berupaya menguasai daerah untuk berdagang, juga untuk menyebarkan agama protestan.

Karakteristik kondisi sosial budaya pada zaman ini antara lain: berlangsung kolonialisma, berlangsung monopoli dalam bidang ekonomi, terdapat stratifikasi berdasarkan ras atau suku bangsa.

a. Pendidikan zaman VOC

Pendidikan di bawah kekuasaan colonial belanda diawali dengna pelaksanaa pendidikan yang di lakukan VOC. VOC menyelenggrakan sekolah dengan tujuan untuk misi keagamaan(protestan). Tujuannya lainnya adalah untuk menghasilkan pegawai adimintrasi rendahan di pemerintah dan gereja. Kurikulum pendidikanya berisi pelajaran agama protestan.

b. Pendidikan oleh kaum pergerakan kebangsaan (pergerakan nasional) sebagai sarana perjuangan kemerdekaan dan penyelenggaraan pendidikan nasional.

Latar belakang sosial budaya timbulnya pergerakan nasional.

Sejak kebangkitan nasional (1908) sifat perjuangan rakyat indonesia dilakukan melalui berbagai partai dan organisasi, baik melalui jalur politik praktis, jalur ekonomi, sosial budaya, dan khususnya melalui jalur pendidikan.

Pendidikan setelah tahun 1900 usaha-usaha partikelir di bidang pendidikan berlangsung dengan sangat gitnya. Lahirlah sekolah-sekolah partikelir (perguruan nasional).

B. Pendidikan pada zaman militerisme jepang

Latar belakang sosial budayanya. Ada dua kebijakan pemerintah pendudukan militer jepang, (1)menghapuskan semua pengaruh barat di indonesia melalui pen-jepang-an dan (2) memobilisasi segala kekuatan dan sumer yang ada untuk mencapai kemenangan perang asia timur raya.

Implikasi kekuasaan pemerintahan pendudukan militer jepang dalam bidang pendidiakan di Indonesia.

1). Tujuan isi pendidikan di arahkan demi kepentingan peran asia timur raya.

2). Hilangnya sitem dualism dalam pendidikan.

3). System pendidikan lebih merakyat.

C. Pendidikan indonesia periode 1945-1969 dan masa pembangunan jangka panjang (PJP) ke 1: 1969-1993

1. Pendidikan pada periode tahun 1945-1969

Setelah proklamasi kemerdekaan 17 agustus 1945, pada tanggal 18 agustus 1945 ppki menetpkan uud 19454 sebagai dasar negara. Sejak saat ini jenjang dan jenis pendidikan mulai disempurnakan dan disesuaikan dengan kebutuhan bangsa indonesia.

Peletakan dasar pendidikan nasional pada tanggal 18 agustus 1945 ppki memetapkan uud 1945 sebagai konstitusi negara. Dalam tap-tap MPRS ada beberapa hal yang menarik perhatian, antara lain: (1) untuk mengembangkan kepribadian dan kebudayaan nasional indonesia, maka pengaruh-pengaruh buruk kebudayaan asing di hapuskan (2) pancasila dan monopoli dijadika mata pelajaran di perguruan rendah sampai dengan perguruan tinggi. (3) pendidikan agama menjadi mata pelajara di sekolah-sekolah mulai dari sekolah rakyat smpai dengan univrsitas.

2. Pendidikan pada masa pjpi

Pelaksanaan pelita 1 pjpi 1 dicanangkan mulai 1 april 1969, departemen pendidikan dan kebudayaan mengumpulkan 100 orang pakar/pemikir pemdidikan di cipayung untuk melakukan konferensi dalam rangka mengidentifikasi masalah pendidikan nasional, menyusun suatu prioritas pemecahan dari berbagai masalah tersebut.

Tujuan pendidikan adalah untuk membentuk pancasila sejati berdasarkan pembukaan UUD 1945 dan isi UUD 1945.

Kurikulum pendidikan. Dalam PJP I telah dilakukan tiga kali: perubahan kurikulum pendidikan,yitu apa yang di kenal Kurikulum 1968, Kurikulum 1975, dan Kurikulum 1984.

Bab IX

Landasan yuridis pendidikan

A. Cita-cita pendidikan dan amanat uud negara r.i tahun 1945 mengenai penyelenggaraan pendidikan nasional.

Bangsa iindonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 agustus 1945. Sehari setelah itu pada tanggal 18 agstus 1945 panitia persiapan kemerdekaan indonesia (ppki) menentukan uud 1945 sebagai konstitusi negara. UUD 1945 mengamanatkan agar “ pemerintahan mengusahakan dan menyelengarakan satu system pendidikan nasional,dalamm rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yitu di atur dengan undang-undang.

B. Sistm pendidikan nasional

Pendidikan nasional dan sistem pendidikan nasional, pertama-tama pemerintah memberlakukan UU RI No. 4 tahun 1950 tentang dasar-dasar pendidikan dan pengajaran disekolah yuncto UU RI No. 12 tahun 1945. Sejak 27 maret 1989 UU tersebut diganti dengan UU RI No. 2 tahhun 1989 tentang “sistem pendidikan nasional”.

Pendidikan pada pasal 1 ayat 1 UU R.I No. 20 thun 2003 dinyatakan bahwa pendidikan adalah usaha dasar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar da proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kektauan spiritual keagamaan, pengndalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan untuk dirinya, masyrakat, bangsa dan negara.Fungsi dan tujuan pendidikan nasional ,“pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang martabat dalam rangka mencerdaskan bangsa”. Adapun tujuan pendidikan nasional adalah untuk “berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada tuhan yang maha esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan maenjadi warg negara yan demokratis dan bertaggung jawab” (pasal 3 dan penjelasan atas UU RI No. 20 tahin 2003).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar